Tugas Bahasa Indonesia : Artikel Narasi
Katane Boss?
September, 2014. Pagi ini
gue berangkat sekolah menjalani aktivitas seperti biasanya di SMA IT Al Irsyad
Al Islamiyyah Purwekerto. Dengan menaiki motor bebek gue siap tancap gas menuju
ladang ilmu. Di sekolah gue mengikuti pembelajaran seperti biasanya.
Sore hari setelah
pelajaran usai, gue temuin temen gue bernama Alfath, dia orangnya gue nilai
sebagai orang yang unik, banyak “fans” (bercanda bro), dan gue kira dia punya
potensi tinggi dalam bidang kesenian, ga heran setiap pelajaran yang dia rasa
membosankan selalu dia isi dengan
menggambar (jangan di tiru ya bro). Karena potensinya tersebut, gua berniat
mengajaknya untuk bekerja sama dalam pembuatan game bersama gua, dimana gua
sebagai programmer, dan dia sebagai graphic designer.
Gua coba deketin dia, gua bujuk
dia setiap hari (hahahaha) pokoknya sampe mau (unsur pemaksaan jangan di
tanya), setiap pergantian pelajaran gua bujuk, istirahat, jam pulang, jam
masuk, kapanpun deh. Setelah banyaknya bujukan akhirnya mau juga dia. Akhirnya
sepakat Senin depan sepulang sekolah kita kumpul dan gua jelasin apa apa saja
yang dibutuhkan dalam pembuatan game yang gua rencanain.
Game yang gua rencanain
bertipe pertarungan. Mau tau gimana ekspresi dia saat tau game yang gua magsud?
Biasa aja (garing :p). Gua jelasin tuh semua yang dibutuhkan dia untuk membuat
gambar dan design berbasis vector dan bitmap. Dalam membuat gambar 2 Dimensi,
dibutuhkan pula Pen Tablet, karena gua belum punya tuh pentab, untung saja teman
saya Adi Harmony mau meminjamkan pentab miliknya, walau ga gua cantumin mau
berapa hari minjemnya (modus nih, jangan ditiru juga :p ).
Awalnya Alfath mencoba
jangan ditanya, yang jelas ga bisa apa-apa (“jlebb..”), karena dalam sehari-hari
dia hanya menggunakan pensil untuk menggambarkan kreativitas imajinatif yang
terlintas dalam pemikirannnya disetiap pembelajaran matematika (“eeh…”). Lambat
laun, hari demi hari, jam demi jam, menit demi menit, detik demi detik, mili
detik demi mili detik, usaha untuk mempelajari,
melatih kreativitas, dan ketrampilan dalam penggunaan pentab memasuki
tahap bisa walau belum mahir tapi setidaknya sudah cukup, setelah itu gue dapet
hadiah dari bapak gua, mau tau? Taraaa gua dapet pentab yang sama persis dengan
milik Adi, gua jadi lega tidak memangku amanah barang orang lain lagi,
terimakasih pula untuk bapak gua tercinta. Eiit, selagi dia masih belajar
tentunya gua tidak nganggur, gua mempersiapkan “program” yang akan menjadi
susunan dari game ini, agar nanti saat dia sudah bisa menggambar dengan baik,
tinggal memasukan datanya gambarnya saja dan memberi animasi.
Awalnya pembuatan game ini
saya prediksi akan selesai selama satu bulan, eh ternyata untuk mengasah
kemampuan menggambar di atas pentab membutuhkan waktu sebulan, belum juga animasi.
Akhirnya gua targetin selesai tahun 2014 ini. Dalam pembuatan game ini, Gua dan
Alfath mengambil waktu sepulang sekolah dan tempatnya di sekolah setiap hari,
sabtu pun gua sikat waktunya, liburan semester? Jangan di tanya, habis pula
untuk ngerjain projek game ini di rumah gua, jadi satu bulan penuh tuh gua
tidak ada liburan bro.
Hingga akhir taun projek
baru mencapai sekitar 50%. Target gua di undur lagi, sebelum SMA IT Edu Fair
yang kabarnya akan diadakan dibulan Januari akhir. Jadi kami buat target hingga
sebelum SMA IT Edu Fair, karena kemungkinan dari segi ekonomis gua bisa promosi
dalam acara tersebut.
Berjalannya waktupun
terasa begitu cepat, hingga melewati Edu Fair pun target belum terpenuhi. Gua
dan Alfath masih tidak akan patah semangat nih. Gua masi terus melanjutkan,
karena dalam mengerjakan projek ini gua jadi bisa membagi waktu pula, banyak
hal yang bisa gua dapet, gua menikmati setiap apa yang gua kerjain.
Februari 2015. Di bulan
ini, gua ngerasa ada sesuatu yang aneh dari sikapnya Alfath, gua sering merasa
tidak enak saja saat mendengar apa yang dia katakan. Sering kali gua denger dia
menyindir seseorang, gua merasa tidak nyaman saja.
Sabtu sore, hari ini gua
merasa lelah, jadi gua bilang ke Alfath bahwa hari ini istirahat saja di rumah
masing-masing. Sore hari, gua tiduran sambil chat dengan Alfath, dia singkat
cerita dalam pembahasan soal projek game ini, dan keputusan gua untuk istirahat
hari ini, dia sempat berkata “katane Boss..” . Saat di mendengar kata-kata
tersebut terlintas sesuatu yang membikin emosi saya naik, namun untungnya saya
masih bisa menahan diri.
Jumat depan. Hari ini gua
memutuskan untuk isitirahat, karena ada kegiatan pramuka di sekolah setiap hari
Jumat setelah pulang sekolah. Selepas pulang sekolah gua ngerjain projeknya
sendirian, gua sedang memberi “coding / program” pada karakter “boss” dalam
game tersebut. Gua message ke Alfath bahwa gua sedang ngerjain “Bossnya”.
Minggu depan. Hari ini gua
memutuskan untuk istirahat lagi, karena gua ngerasa lelah karena aktivitas
sekolah yang dimana hari-hari nya gua juga ngerjain projek setiap hari pula
sepulang sekolah. Gua bersendeh tembok di atas kasur gua. Gua memulai untuk
mengambil HP gua, gua cek “notification” yang kosong, gua BBM Messager, gua
memulai chat dengan Alfath. Gua membahas masalah istirahat hari ini, dan dia
mengatakan “Katane Boss?” tepat setelah kata dalam teks message tersebut
terbaca, emosi gua bener-bener naik. Gua menganggap bahwa Alfath menyindir gua
sebagai Boss dalam projek game ini tidak mau bekerja keras, dan gua pikir
“mentang mentang gue boss kenapa harus gua ambil setiap waktu untuk ngerjain
projek ini?, tidak bolehkah ada kata istirahat?.” Tepat setelah gua bales chat
Alfath “Magsudnya apa?, ngomongnya dijaga lah, akhir akhir ini kamu sering
ngomong nyindir orang lain, tapi terallu berlebihan, jangan kaya bocah..” tepat
setelah gua kirim chat itu, Alfath pun naik emosinya. Dia langsung memutuskan
untuk berhenti, dan meminta agar karakter yang dia buat dalam game untuk tidak
digunakan. Bener-bener hening keadaan saat itu, langkah semut pun terasa
detaknya, meraba dalam diamnya suasana, serasa waktupun terhenti dengan
santainya, salju yang dingin seperti menumbuk otak dan hati yang panas ini, dan
semakin menumbuk hingga menutupi celah cahaya api unggun.
Gua tidak tau siapa yang
salah di situ, gua coba tanya, “Apa magsudmu dengan ‘Katane Boss?’..” Alfath
yang hendak mendelete contact gua membalas “Kemarin ‘mbok’ kamu ngerjain bossnya?
Apa salah ku? Magsudnya aku cuman mau tanya kemarin katane boss, udah selesai
apa belum?.”
“‘KOPLAAAAAAAAAKKKK’” kata
tersebut terus terlintas dalam pikiran gua, bendungan arus tertawapun tak dapat
tertahan dan hancur, Salju yang tadi menutupi api unggun pun lenyap bersama api
unggunnya dan tergantikan dengan cahaya musim panas yang mulai memancar dan
menyinari suasana. Gua tertawa terbahak-bahak. Setelah semua yang terjadi ini, ternyata hanya karena salah paham.
Gua langsung jelasin, apa
yang ada dalam pikiran gua, dan gua meminta maaf. Akhirnya kita kembali damai. Gua
bener bener tidak menyangka sebuah kata yang sangat simple itu dapat memicu
sebuah pertengkaran.
Setelah kejadian tersebut,
gua merasa Alfath sikap sudah jauh lebih baik dari sebelumnya, banyak perubahan
yang terjadi padanya, gua ikut seneng. Selanjutnya, gua dan Alfath masih terus
melanjutkan projek game hingga saat ini. Entah kapan selesainya, mudah mudahan
dapat dimudahkan dan mendapat hasil yang memuaskan J .